Sabtu, 26 Juli 2008

MENKOINFO:Rukun, Produktivitas Meningkat


MENKOINFO:Rukun, Produktivitas Meningkat Minggu 21/07/2008 16:12:14

Lamongan – Surabaya Post
Menteri Komunikasi dan Informasi, Prof Dr Ir H M. Nuh DEA meminta seluruh akademisi dan komunitas ilmiah di lingkungan Perguruan Tinggi NU untuk rukun dan kompak dalam mengembangkan pendidikan. ‘’Sekali lagi, saya meminta marilah hidup yang rukun karena tidak ada ceritanya perpecahan itu itu lebih baik,’’ kata M. Nuh, dalam rakor PT NU di Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, Minggu (20/7) kemarin.Sebelumnya, secara berkelakar M Nuh mengutip omongannya saat acara NU di Probolinggo, yaitu NU sekarang ini sudah tidak usah lagi menyewakan alat pesta, baik terop atau kursi untuk orang lain. Karena bagaimanapun, terop atau kursi itu lama-lama akan rusak setiap kali dikembalikan. Karena itu, lebih baik membangun rumah dengan suasana yang sejuk sehingga anak-anaknya kerasan.‘’Kalau suasananya sejuk, maka produktivitas akan meningkat. Sebaliknya, kalau suasananya panas, gegeran terus, anak menjadi tidak kerasan, ada yang buat rumah sendiri, terpisah-pisah, akhirnya bisa-bisa tidak saling kenal,’’ katanya. Karena itulah, dia mengapreasiasi dengan baik bangkitnya kembali pendidikan tinggi di lingkungan NU.Dalam kuliah umumnya, M. Nuh menyatakan pendidikan di perguruan tinggi adalah jenjang terakhir dari serangkai pendidikan yang dijalani, karena itulah, sangat menentukan baik tidaknya generasi yang diterjunkan di masyarakat. Kalau lulus SMP kurang baik, masih bisa diperbaiki di tingkat SMA, demikian pula kalau terjadi di SMA. Tapi kalau di perguruan tinggi sudah tidak bisa, karena sudah jenjang terakhir.Dan seluruh perjuangan pengembangan pendidikan di PT, menurut dia, akan berujung pada masalah kualitas. Untuk itu, diperlukan konsep yang jelas, baik secara keilmuan ataupun manajemen. Persoalan yang nyata saat ini adalah, setiap tahun jumlah sarjana bertambah banyak, namun persoalan di masyarakat tidak juga terselesaikan atau justru malah menimbulkan persoalan baru. Menurut dia, hal ini bisa terjadi karena konsep pendidikan yang tidak jelas atau persoalan yang ada di masyarakat jauh lebih cepat dari pendidikan di PT.Dia menyebut tiga konsep dasar pengembangan pendidikan yang islami, yaitu pertama, tilawah atau kemandirian dan kemampuan membaca ayat-ayat Allah. Kedua, tazkiyah yang menyangkut hati, mentalitas, moral, dan akhlak. Ketiga, ta’alim atau membaca kitab keilmuan dan berhikmah. Semuanya itu, menurut dia, harus berjalan seimbang, misalnya saja dalam kemampuan ta’alim, tidak hanya mementingkan keilmuan semata, namun juga harus mempelajari tentang hikmah atau kebijaksanaan.Khusus mengenai pengembangan perguruan tinggi di NU, pemerintah menyambut positif upaya yang telah dilakukan. Karena tidak mungkin pemerintah akan mengatasi semuanya. Karena itu, seharus PT NU juga mendapat dukungan akses dan fasilitas dari pemerintah. Kalau saat ini belum mendapat, ‘’Jangan lantas menyalahkan, tapi mari instropeksi, tidak langsung menyalahkan,’’ katanya.M. Nuh sendiri membuktikan ucapannya itu. Dia lantas memperkenalkan Kepala Divisi V Telkom Jatim, Maschut, yang diajaknya serta dalam kunjungannya ke Unisda kemarin. ‘’Telkom akan memasang hot spot area untuk berinternet, gratis. Mahasiswa tidak perlu lagi, ngerek-ngerek kabel,’’ katanya, dan Selasa esok, Telkom sudah akan memasang alatnya dan Rabu sudah bisa dinikmati mahasiswa.(D2)

Tidak ada komentar: